Flores, Timor New NTT – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, mengungkapkan bahwa pembangunan hunian sementara (huntara) bagi korban gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores masih terus berlangsung. Hingga 30 September 2026, tercatat baru 39 unit huntara yang selesai dibangun di enam kabupaten terdampak, sementara ribuan unit lainnya masih dalam proses pengerjaan.
Rincian Pembangunan per Kabupaten
Secara rinci, Kabupaten Manggarai telah menyelesaikan empat unit huntara, dengan 110 unit lainnya masih dikerjakan. Dari jumlah tersebut, 50 unit telah mencapai progres di atas 50 persen, sedangkan 60 unit sisanya masih di bawah 50 persen. Berdasarkan verifikasi pemerintah setempat, terdapat 1.494 rumah yang mengalami kerusakan berat di wilayah ini.
Artikel lain Momentum Apel ASN, Gubernur NTT Gaungkan Gerakan 1 ASN 1 BukuDi Kabupaten Manggarai Timur, enam unit huntara telah rampung dan 561 unit lainnya masih dalam tahap pengerjaan, dari total target 1.305 unit. Pembangunan di wilayah ini menggunakan skema insitu maupun eksitu yang disesuaikan dengan kebutuhan warga.
Sementara itu, di Ngada sebanyak 11 unit huntara mandiri dan insitu telah selesai dibangun, dengan 272 unit masih berproses. Di Nagekeo, sembilan unit huntara insitu telah rampung dan 173 unit lainnya masih dalam penyelesaian, dengan catatan 314 rumah rusak berat di wilayah tersebut.
Untuk Kabupaten Sikka, dua unit huntara telah selesai dan 25 unit lainnya dikerjakan secara paralel, dari total 153 rumah rusak berat. Di Ende, tujuh unit huntara telah selesai dibangun dan tujuh unit lainnya masih dalam tahap pembangunan. Suharyanto berharap pengerjaan ini dapat diselesaikan secepatnya agar penyintas tidak lagi tinggal di pengungsian.
Artikel lain Gempa M6,1 Guncang Sumba Barat Daya, Warga Panik Berhamburan Saat Akan Beribadah di GerejaDua Opsi bagi Penyintas Rumah Rusak Berat
BNPB memberikan dua pilihan bagi warga yang rumahnya rusak berat, yaitu menerima huntara atau Dana Tunggu Hunian (DTH). Warga yang memilih DTH akan memperoleh bantuan Rp600 ribu per bulan selama tiga bulan sambil menunggu pembangunan hunian tetap. Suharyanto menyebutkan sebagian besar warga lebih memilih skema huntara. Pembangunan huntara dilakukan secara bertahap berdasarkan daftar penerima manfaat yang ditetapkan pemerintah daerah, dengan lokasi yang dibahas bersama masyarakat.
Jumlah Pengungsi Turun Signifikan
Artikel lain Undana Bebaskan UKT Satu Semester bagi Mahasiswa Flores yang Terdampak Gempa BumiData BNPB per 30 September 2026 menunjukkan jumlah warga yang masih berada di pengungsian tinggal 22.383 jiwa, turun sekitar 87 persen dari 179.037 jiwa pada awal masa tanggap darurat. Sebagian besar penyintas yang bertahan di lokasi pengungsian merupakan warga yang masih menunggu penyelesaian pembangunan huntara. Suharyanto menjelaskan bahwa huntara dirancang sebagai hunian transisi sementara sebelum masyarakat mendapatkan hunian tetap pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi.