Kupang, Timor New NTT – Pekan Special Olympics Nasional (PESONAS) II Tahun 2026 resmi ditutup oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Johni Asadoma di GOR Oepoi, Kota Kupang, pada Sabtu malam (17/10/2026). Penutupan tersebut mengakhiri rangkaian kompetisi yang mempertemukan atlet dari 22 provinsi di Indonesia. Selain catatan prestasi, ajang ini juga meninggalkan pesan tentang kesetaraan, persaudaraan, dan penghargaan terhadap setiap individu.

Pesan Persahabatan dari Gubernur Melki
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan apresiasi kepada para atlet dan seluruh kontingen yang telah menghadirkan semangat, keberanian, persahabatan, serta inspirasi bagi masyarakat NTT. Ia berharap para peserta membawa pulang lebih dari sekadar kenangan pertandingan, yakni pengalaman keramahan masyarakat dan keindahan Flobamora serta persaudaraan yang terjalin selama berada di Bumi Flobamorata.

"Bagi kami, NTT bukan sekadar tempat bertanding, tetapi rumah bersama, tempat setiap orang diterima, dihargai, dan dirangkul dengan penuh kasih," pesan Gubernur Melki kepada seluruh peserta PESONAS II 2026. Pernyataan tersebut mempertegas makna PESONAS sebagai ajang olahraga inklusif yang berorientasi pada pengakuan kemampuan dan pemberian kesempatan setara bagi setiap atlet untuk menunjukkan potensinya.

Artikel lain Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) Kejaksaan Negeri Kota Kupang Gelar Sosialisasi Penerangan Hukum di Kelurahan Kelapa Lima

NTT Raih Juara Umum III
Dari sisi prestasi, kontingen NTT mencatatkan hasil membanggakan dengan menempati posisi Juara Umum III. Sebagai tuan rumah, NTT mengoleksi 21 medali emas, 20 medali perak, dan 22 medali perunggu dalam persaingan yang diikuti 22 provinsi peserta.

Dalam sambutan penutupan, Wagub Johni Asadoma menegaskan bahwa keberhasilan atlet tidak hanya ditentukan oleh medali. Keberanian untuk mencoba, ketekunan menghadapi tantangan, dan kesediaan memberikan kemampuan terbaik merupakan bagian penting dari kemenangan dalam olahraga. "Setiap keberanian untuk mencoba adalah kemenangan, setiap perjuangan layak dihargai, dan setiap atlet berhak bersinar sebagai bintang dunia," tegasnya.

Bagi atlet dengan disabilitas intelektual yang berkompetisi dalam ekosistem Special Olympics, kesempatan bertanding menjadi sarana membangun kepercayaan diri, kemandirian, serta hubungan sosial. Karena itu, dukungan terhadap olahraga inklusif perlu terus berlanjut setelah upacara penutupan usai.

Artikel lain Kelurahan Kelapa Lima Gelar Pawai Adat Sabu, Upaya Lestarikan Budaya Daerah

Meninggalkan Warisan Inklusi
PESONAS II 2026 membuktikan bahwa penyelenggaraan olahraga dapat berjalan seiring dengan upaya membangun masyarakat yang lebih terbuka dan menghargai keberagaman. Para atlet dan pendamping diharapkan tidak hanya mengingat persaingan di arena, tetapi juga merasakan penerimaan dan persaudaraan selama berada di NTT.

Tantangan berikutnya adalah menjaga semangat inklusi tersebut tetap hidup setelah kompetisi selesai, melalui penguatan kesempatan berolahraga, dukungan bagi atlet, keterlibatan keluarga, serta penerimaan masyarakat. Bagi pemerintah daerah, komunitas olahraga, dan dunia pendidikan, PESONAS menjadi pengingat bahwa setiap orang membutuhkan ruang untuk tumbuh dan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.

Gubernur Melki pun menutup pesannya dengan undangan untuk kembali ke NTT: "Sampai jumpa lagi di lain kesempatan. NTT selalu menjadi rumah bagi saudara semua." PESONAS II 2026 akhirnya berakhir dengan dua catatan yang berjalan beriringan: prestasi kontingen NTT sebagai Juara Umum III dan pesan tentang pentingnya menghargai setiap atlet tanpa membatasi kesempatan berdasarkan kondisi atau kemampuan.